Seperti biasa, dan dalam momen yang sangat tepat, ada sebuah kata Jerman yang bisa menggambarkan sosoknya dengan sempurna.

Menschenfänger: diterjemahkan secara kasar ke dalam bahasa Inggris sebagai ‘people-catcher’, seorang figur yang dengan kekuatan kepribadiannya menarik orang lain untuk melakukan perjalanan bersama dan mengisi mereka dengan keyakinan bahwa apa pun dapat dicapai.

Kedengarannya familiar, bukan?

Kedengarannya seperti cara yang benar-benar ideal untuk menggambarkan Jürgen Klopp dan dampaknya di Liverpool FC.

“Cukup sering saya diberitahu bahwa orang-orang melihat saya seperti itu,” katanya baru-baru ini. “Saya mencintai orang-orang. Saya penasaran, saya tertarik, saya ingin belajar, saya ingin mendengarkan, dan saya ingin bertemu mereka dan semua hal semacam itu.

“Tapi itu semua pandangan saya – dan jika dalam perjalanan itu, orang-orang ingin mengikuti atau ingin menjadi bagian dari tim ini, mereka sangatlah diterima, pasti.

“Itu satu-satunya cara saya memahami hidup sepanjang hidup saya. Itu memberi saya banyak momen fantastis.”

Klopp secara ikonik mengidentifikasi kebutuhan akan suntikan harapan semacam itu ke dalam klub segera setelah kedatangannya sebagai manajer Liverpool pada bulan Oktober 2015, mengakui pada hari pertamanya bahwa dia ingin mengubah ‘orang-orang yang ragu menjadi orang-orang yang percaya’.

Misi itu pasti telah tercapai.

The Reds hanya mampu berakhir di peringkat kedelapan di liga pada akhir musim pertama Klopp, tetapi sudah ada perasaan bahwa sebuah perjalanan telah dimulai.

Kemenangan tandang yang meyakinkan atas Chelsea dan Manchester City di awal masa jabatannya telah menunjukkan apa yang mungkin dikenal dengan sebutan 'heavy-metal football' ala Klopp – yang didasarkan pada energi, pressing dan serangan yang efektif.

Dua penampilan di final – Liverpool hampir saja meraih Piala Liga dan Europa League tahun itu – menegaskan gagasan bahwa klub kembali berada di jalur yang tepat.

Sama pentingnya dengan perkembangan yang terlihat di lapangan, bagaimanapun, adalah pengaruh Klopp di luar lapangan.

Seorang komunikator yang jujur dan bijaksana, kehangatan karakternya dan sentuhan yang sangat manusiawi menyentuh hati kota yang baru didatanginya. Dan dia dengan cepat menyatukan para pemain, staf, dan pendukung menjadi satu kesatuan yang sangat kuat.

“Kami mencoba menciptakan situasi di mana semua orang di stadion dan di seluruh dunia yang terikat dengan LFC merasa lebih baik,” katanya. “Dan membuat mereka kesulitan untuk tidak tersenyum ketika mereka memikirkan LFC. Itulah tugas pertama kami.”

Progres tim berlanjut pada 2016-17, dengan tiket kembali ke sepak bola Champions League dipastikan pada hari terakhir musim di Anfield.

Beberapa pemain seperti Sadio Mane, Joel Matip dan Georginio Wijnaldum datang lebih awal, dan evolusi proyek bertambah maju dengan kedatangan Alex Oxlade-Chamberlain, Andy Robertson dan Mohamed Salah di musim panas 2017.

Mungkin bahkan Klopp yang selalu optimis pun tidak bisa meramalkan perjalanan mendebarkan ke final Piala Eropa berikutnya.

Dipimpin oleh trisula penyerang Roberto Firmino, Mane dan Salah yang sangat ikonik, mereka dengan gagah berani menuju Kyiv dengan lantunan lagu Allez, Allez, Allez di tribun.

Hampir lagi, hanya saja Real Madrid menang 3-1 pada malam Mei 2018 itu, tetapi dalam beberapa jam setelah peluit akhir, bos sudah kembali ke Merseyside dan mengatakan timnya akan kembali ke final.

Dan dia benar.

Diperkuat dengan kedatangan Alisson Becker, Fabinho dan Virgil van Dijk, dan lainnya – serta munculnya bintang Akademi Trent Alexander-Arnold – Liverpool tampil luar biasa pada 2018-19, dan dijuluki ‘mentalitas monster’ oleh manajer mereka.

Mereka nyaris mendapatkan gelar Premier League, meskipun mencatatkan lebih dari 30 kemenangan, tujuh hasil imbang, hanya satu kekalahan dan total 97 poin. Manchester City hanya unggul satu poin lebih baik.

Tapi penebusan di Champions League menunggu.

Ada keajaiban Anfield, ketika kekalahan 3-0 di laga pertama semifinal melawan Barcelona dibalikkan pada salah satu malam terbesar di Anfield. Corner taken quickly, Origi, menang 4-0 dan tiket ke Madrid.

Di sana, di dalam Estadio Metropolitano yang sangat panas pada hari pertama Juni, ayunan kaki kiri Salah dan Divock Origi pada awal dan akhir mengalahkan Tottenham Hotspur dan memastikan klub meraih trofi Si Kuping Besar untuk keenam kalinya dalam sejarah klub.

Diperkirakan 750.000 penggemar menyambut mereka pulang keesokan harinya.

“Saya tidak bisa benar-benar menggambarkannya karena saya juga sedikit menangis karena sangat luar biasa apa yang dilakukan orang-orang,” kata Klopp. “Ketika Anda memiliki kontak mata langsung dan Anda melihat betapa berartinya itu bagi mereka, itu menyentuh, sejujurnya. Ini brilian. Ini benar-benar istimewa.”

Itu tidak akan menjadi satu-satunya perubahan pada daftar glear klub pada 2019.

UEFA Super Cup diangkat setelah mengalahkan Chelsea dalam adu penalti di Istanbul, sebelum prestasi unik bagi The Reds: gol Firmino pada perpanjangan waktu melawan Flamengo di Qatar membawa Liverpool meraih trofi Club World Cup untuk pertama kalinya.

Setelah menjadi juara Eropa dan dunia, tujuan langsung berikutnya adalah mengakhiri penantian untuk menjadi juara di liga lagi, yang hampir mencapai 30 tahun.

Untungnya, penampilan mereka di liga pada musim 2019-20 tidak terbendung. Sangat luar biasa, sungguh. Dua puluh tujuh pertandingan pertama ditandai dengan 26 kemenangan dan satu hasil imbang.

Dua puluh enam kemenangan dan satu hasil imbang.

Pada tahap itu, mereka memimpin liga dengan keunggulan 22 poin.

Ketika Anfield menyanyikan ‘Kami akan memenangkan liga’ setelah kemenangan simbolis melawan Manchester United pada Januari, keyakinan benar-benar telah mengalahkan keraguan.

Munculnya pandemi COVID-19 dan penundaan musim menunda konfirmasi mereka sebagai juara, tetapi pada 25 Juni 2020 itu semua selesai: Klopp dan timnya telah meraih gelar tersebut.

Terharu oleh pencapaian tersebut, sang manajer harus memotong wawancara TV langsung saat air mata jatuh dari matanya.

“Kami ingin memberikannya kepada semua orang di luar sana juga karena kami di sini, mereka di sana, tetapi kami semua bersama,” katanya. “Pesan saya adalah: ini untuk kalian di luar sana. Ini benar-benar untuk Anda. Saya harap Anda merasakannya.”

The Reds tidak dapat meniru level itu selama musim 2020-21 akibat cedera, saat tim berusaha berjuang dalam stadion yang tanpa penonton.

Namun kebangkitan di akhir musim memastikan mereka merebut posisi ketiga di Premier League, dan meletakkan dasar untuk upaya sensasional – dan sangat dekat – pada quadruple ketika para penggemar kembali musim berikutnya.

Tiga perjalanan tak terlupakan ke Wembley pada 2021-22 memastikan Carabao Cup dan Emirates FA Cup ditambahkan ke koleksi trofi, dengan Chelsea dikalahkan melalui adu penalti di kedua pertandingan dan Manchester City dikalahkan di semifinal kompetisi di semi-final.

Mereka luar biasa di liga, hanya kalah dua kali dan mengumpulkan total 92 poin, namun kalah dari City dengan satu poin lagi setelah hari terakhir yang dramatis.

Penampilan ketiga di final Champions League dalam lima musim juga harus berakhir dengan kekecewaan, dengan kekalahan 1-0 dari Real Madrid yang bagaimanapun dibayangi oleh peristiwa traumatis di luar lapangan yang dialami para penggemar di Stade de France di Paris.

Kekuatan hubungan Klopp, stafnya, pemain dan pendukung yang telah diciptakan dibuktikan oleh setengah juta orang yang hadir di parade keesokan harinya sebagai penghormatan atas upaya mereka.

Di tahun itu, sang bos telah mencapai tujuh tahun di Merseyside, mengikuti masa jabatannya di masing-masing klub sebelumnya, FSV Mainz 05 dan Borussia Dortmund.

Tapi dia berhasil melampaui itu bersama The Reds, sementara dampaknya di kota ini tercermin dalam penerimaannya atas Freedom of the City of Liverpool pada November 2022. “Saya sudah sangat dekat dengan segala hal di Liverpool tetapi itu membuat saya semakin dekat malam ini,” katanya.

Kata-kata itu datang di tengah musim yang sulit bagi tim Klopp, yang turun ke posisi kelima di klasemen Premier League dan tidak bisa menjadi penantang di kompetisi piala juga.

Diperlukan reset dan rebuild. Peluncuran ‘Liverpool 2.0’, kata sang bos.

Dan skuad barunya tentu saja memberi kita perjalanan yang mengasyikkan pada 2023-24, mengatasi kemalangan cedera dan banyak kemunduran dalam pertandingan untuk melakukan upaya yang tidak terduga.

Ada juga gelar lainnya, dengan laju luar biasa di Carabao Cup membawa The Reds kembali ke Wembley, di mana – dengan bantuan dari sekelompok pemain muda – mereka mengalahkan Chelsea 1-0, sebuah gol di perpanjangan waktu dari Van Dijk sebagai penentu.

Klopp sebelumnya telah mengumumkan, pada akhir Januari, keputusannya untuk mundur pada akhir musim ini, menandakan titik berhenti masa jabatan manajerial terpanjang Liverpool sejak Bob Paisley.

“Saya benar-benar mencintai segala sesuatu tentang klub ini, saya mencintai segala sesuatu tentang kota ini, saya mencintai segala sesuatu tentang para pendukung kami, saya mencintai tim ini, saya mencintai stafnya. Saya mencintai semuanya,” katanya.

“Tetapi bahwa saya mengambil keputusan ini menunjukkan kepada Anda bahwa saya yakin itu adalah yang harus saya ambil. Itu adalah bahwa saya, bagaimana saya mengatakannya, kehabisan energi.”

Klopp melanjutkan: “Bagi saya sangat, sangat, sangat penting bahwa saya bisa membantu membawa tim ini kembali ke jalur. Itu semua yang saya pikirkan.

“Ketika saya menyadari cukup awal bahwa itu terjadi, tim ini adalah tim yang sangat bagus dengan potensi besar dan kelompok pemain muda yang super, karakter super dan semua itu, maka saya bisa mulai memikirkan diri saya sendiri lagi dan itulah hasilnya. Itu bukan apa yang ingin saya [lakukan], itu menurut saya 100 persen hal yang saya perlu lakukan. Itu saja.”

Hampir empat bulan setelah berita mengejutkan itu, Klopp dan Anfield mengucapkan selamat tinggal terakhir mereka yang penuh emosi pada hari Minggu.

Pertandingan dengan Wolverhampton Wanderers – pertandingan ke-491 dan terakhirnya di Liverpool – pada kenyataannya, bukan soal pertandingan tersebut. INi lebih tentang keinginan Kopites untuk mengungkapkan cinta dan rasa terima kasih mereka kepada pria itu, sang Menschenfänger, yang membuat mereka bermimpi dan percaya.

Air mata, tentu saja, mengalir lagi.

“Ini adalah klub yang sangat-sangat istimewa,” kata Klopp awal bulan ini.

“Saya tidak membuat mereka percaya. Saya mengingatkan mereka bahwa akan sangat membantu ketika mereka percaya. Itulah yang saya pikirkan. Semua orang siap untuk mendorong tim ini dan itulah yang kami lakukan selama delapan setengah tahun.”

Dan kami menikmati setiap menitnya.

Kami mulai dengan frasa Jerman dan kami akan mengakhirinya juga.

Danke, Jürgen. Danke schön.